Tifa at-Taqiya ...

Write your dream on the paper with a pencil hope, and let Allah erases some part to change with great story..

Senin, 27 Januari 2014

Menunggu

  
“ Y memang cuma itu. Cuma pertemanan yang diikat oleh satu pemikiran yang benar2 kuat ...”. seorang senior menasihatiku . Aku mengangguk mengiyakan.

6 bulan sudah, hidup dilingkungan yang baru. Berinteraksi dengan orang-orang yang baru. Latar belakang yang baru, pemahaman yang baru serta pemikiran yang berbeda-beda. Sudah 6 bulan, pula aku merasakan ada yang aneh ketika aku berinteraksi. Bukan aneh, tapi perasaan yang sepertinya hilang .

Akhir-akhir ini intinya aku menyadari sesuatu. Bahwa persahabatan sejati, hanya akan didapat ketika kita memilikan satu pemikiran dan perasaan yang sama. Ketika keinginan kita sama2 ingin ditundukan pada hal yang sama. Ketika aqidah menjadi landasan dan menutupi semua ego yang lahir disana.  Ketika itu semua terwujud dalam persahabatan kita, maka  kamu akan merasakan sebuah ikatan irasional yang kadang tak sampai akal untuk terjadi.


Bayangkan , ketika aku pertama kali menginjakan kaki di bumi siliwangi. Aku dijamu hangat layaknya bagian dari mereka tanpa ada rasa canggung. Bahkan sahabat-sahabat itulah yang memperkenalkan diri dan terbuka terlebih dahulu dibanding aku. Sahabat-sahabat itulah yang mengajarkanku hidup di dunia kampus yang keras. Padahal jika difikirkan kembali .. siapa mereka? Aku baru kenal beberapa hari yang lalu, beberapa jam yang lalu, bahkan beberapa menit yang lalu.  Dan aku sadar semua itu, karena pemikiiran dan perasaan yang sama. Karena kami menundukan ego kami pada hal yag sama.. yaitu ISLAM.

Lain sahabat, lain lagi cerita. Ketika aku kembali mengunjungi rumah keduaku. Aku dipaksa berkali-kali mengucap syukur dan pujian kepada Allah karena betapa besarnya karunia Allah untukku. Aku diberikan sahabt-sahabt yang luar biasa menyayangiku tanpa pamrih. Bayangkan saja mereka rela menungguku hingga jam 12 malam di sekolah , agar aku tidak sendirian begitu sampai di bogor.  Mereka juga yang membantuku mengurusi amanah kampus, padahal kalau difikir.. mereka tak dapat upah apapun sertifikat sja tidak. 
 Bahkan diantara mereka ada yang sakit, namun tetap datang untuk membantuku mengurusi urusan kampus . Mereka dengan senang hati membantu ini dan itu.    Mereka pula yang meladeni tingkah aneh dan menyebalkanku . Menyisakan makanannya untukku, mengurusi ini dan itu ... bahkan sampai hal yang sepele dan menurutku tak penting, Semua diperhatikan. Aku bergumam dalam hati . “ inilah persahabatn yang Allah janjikan ...”


Dilain sisi, di kehidupan ku yang lain, di lingkungan tempat aku menggapai mimpiku. Meski temanku banyak. Orang –orang itu hanya datang kepadaku ketika butuh. Memperhatikannku saja.. karena takut ada norma sosial yang dilanggar.  Mendengarkanku.. ketika ucapanku dapat diterima oleh akal mereka . Disaat yang genting, ketika aku meminta tolong ...hanya orang berhati tulus dan ikhlas yang mau membantuku.  “ yaa.. mungkin karena kita belum memiliki pemikiran dan perasaan yang sama”. Namun meski begitu, aku tetap mencintai mereka sebagai saudara sesama muslim. Dan aku berharap, ‘kita’ akan menjadi sahabat seperti yang dijanjikan Allah. Hanya menunggu waktu, menunggu kalian membuka pintu untuk menerima kado kecil dariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar