Tifa at-Taqiya ...

Write your dream on the paper with a pencil hope, and let Allah erases some part to change with great story..

Selasa, 08 Juli 2014

President Election

Semoga tulisan yang satu ini gak kadaluarsa. Karena pemikiran untuk kebangkitan gak kan kadaluarsa.



Menjelang pemilihan presiden kali ini semakin panas. Menjelang hari H, kampanye bukan dilakukan oleh timses presiden tapi sama pendukungnya yang entah kadang pake logika aneh. Bawa-bawa dalil. Dll. Padahal sejatinya ketika kita memilih pemimpin , yuu kembalikan lagi pada standar hukum syara’, sperti apa syaranya, siapa yang harus kita pilih sekaligus sistem apa yang wajib kita pakai.

Beberapa momen di kampus, sempet denger ocehan para mahasiswa.
X: “ Mau milih ga ?”
Y : Enggak tau..euy ..

Ada juga z : Gimana milih no berapa ?. Udah istikhoroh belum “
Y : saya mah milih * tuuuut* yang penting gak golput.


Deg! Miris. Ketika pemilu hanya menjadi sebuah ceremonial belaka tanpa tau esensi akibat nya. “ yang penting.. milih” begitu benakya. Saya punya pemikiran sendiri soal pemilu. Saat ada yang nanya “ Tipp.. milih ga ?”. Saya bilang enggak.

Mungkin beberapa orang merasa aneh, saya suka banget ngomongin kondisi negara,tapi kok malah gak ikut –ikuta . Justru karena saya tau , konsekuensi dari memilih pemimpin dalam sistem demokrasi. Maka saya memutuskan untuk memilih untuk tidak memilih.  Saya justru ingin sekali bertanya dan penasaran, khususya pada kaum muslimin yang menyatakan setuju bahwa demokrasi itu bukan produk Islam dan pangkal utama kesengsaraan. Namun faktanya, malah ikut dalam proses pemilihan demokrasi.

Dengan berbagai alasan misalnya yang mudhorotnya lebih kecil. Saya katakan,  bukankah ketika kita ikut dalam proses pelanggengan demokrasi 5 tahun kedepan itulah mudhorot yang sangat besar. Dan ingat juga, ketika kita mau mengatakan mashlahat dan mudhorot harus disesuaikan dengan Islam . Apakah Islam mengatakan suatu perkara adalah mudhorot atau maslahat.

Mari kita berfikir sejenak, apakah kita yakin hanya sekedar memilih pemimpin lantas negeri ini berubah kondisinya ?vTidak, kawan.  Presiden hanya seorang pengendara yang jalanya akan mengikuti sistem sebagai motornya. Jika kita ingat kembali sewaktu SMA, presiden termasuk lembaga eksekutif. Presiden hanyalah eksekutor dalam mengatur negeri ini. Sedangkan yang mengatur penuh negeri ini adalah undang-undang yang dibuat oleh DPR . Maka mau sebaik apapun pemimpin negeri ini, selama undang-undang yang dipakai negeri ini adalah UU liberal, sekuler, kapitalis. Maka kondisi tidak akan berubah, kenapa ? Karena presiden tidak akan bergerak melenceng dan agar berada pada jalur uu yang telah ditetapkan DPR. Padahal seperti yang sudah dijelaskan, UU negeri ini cacat total.
A

Maka masihkan kita berharap Islam mampu untuk muncul dalam sistem demokrasi ? Ingat demokrasi, tidak akan pernah membiarkan embrio kebangkitan Islam lahir. Mengapa ? Karena ia tahu bahwa ketika Islam bangkit, ia akan menghancurkan diri dia sendiri.


Saya harap, untuk siapapun yang membaca ini. Baik yang mengenal saya ataupun tidak telah memiliki pilihan yang tepat. Karena semua tindakan kita akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. Alasan kita, hujjah kita, dalil yang kita pakai, semua di yaumil akhir kelak akan ditanyakan oleh Allah. Karena semuanya telah termaktub dan terpancar dari Al-Qur’an dan Assunnah .. tinggal kita mau memakainya atau tidak. Wallahu’alam bishawwab


Nb: Bagi sahabat-sahabat yang ingin berdiskusi lebih lanjut, atau apapun mangga ..^^ Tifa sangat senang bisa berdiskusi.. but bukan di komen atau online. Tapi langsung ketemuan.. sekalian silah ukhuwah J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar