Ceritanya ngubek ngubek email yang udah bulukan karena jarang dibuka. Maklum email saya ampe 5 biji. Ehh.. dpet kriman yang bagus nih. Dan pas banget kalo kita emang lagi dpet kejadian yang pas,.. Selamat membaca
Memaknai Kehilangan
Tifa at-Taqiya ...
Write your dream on the paper with a pencil hope, and let Allah erases some part to change with great story..
Sabtu, 28 Juni 2014
Hanya pada yang tepat
“Untuk menjadi seseorang yang akan mengurusi hal besar,
setidaknya kita harus mampu mengurusi yang kecil terlebih dahulu. “
Ya.. kata-kata ini dulu tak pernah kukenal. Aku hanya
bermimpi.. terus bermimpi kelak kan menjadi orang besar. Wanita yang kuat super
hebat dan bla bla bla.. entah hingga baris keberapa deretan mimpii itu.
Tapi rupanya Allah masih sayang pada hambaa kecil ini. Ia
masih mengingatkanku. Bahwa rupanya untuk mejadi seseorang yang besar, bukanlah
layaknya menerbangan debu di persemaian. Ia butuh sebuah jembatan kuat nan
kokoh tuk dilewati. Dan kitalah yang membangun jembatan itu.
Butuh sebuah pribadi yang kuat, untuk amanah yang luar
biasa. Jujur , aku baru saja menyadari.
Bahwa amanah besar hanya akan singgah pada jiwa yang besar pula. Amanah tak kan hinggap pada pribadi yang
rapuh. Dan Syurga tak kan hadir pada orang yang tak diberi amanah ? Mengapa ? karena diri ini juga amanah. Maka
kesimpulannnya buatlah dirimu menjadi pribadi yang besar, hingga ladang syurga
itu akan mendekati dirimu dengan sendirinya.
Kamis, 29 Mei 2014
Rupanya Belum
Suatu hari ,
sebut saja mawar. Melakukan aktifitas rutinnya untuk bertemu dengan seorang
teteh yang selama ini mengajarkannya ilmu Islam. Disitu dia ebrcerita tentang
banyak hal. Kemudian terceletuk dari sang teteh . “ mawar itu belum dewasa
....”. Deg,... Mawar tertegun. Bukan karena tersinggung.. tapi mencoba berfikir
apa itu dewasa.
“ Dewasa itu
ketika kita mampu menundukan segala sesuatu sesuai dengan hukum syara’.. baik
itu marah, senang , sedih, suka benci semua ditundukan dalam hukum syara’ “. Ya,
mawar tertegunn mengingat hingga hari ini dia belum mampu myalurkan marah atau
rasa tidak sukanya sesuai dengan huku syara’. Melakukan sesuatu kadang masih sesuai
dengan mood, memenangkan rasa malas dalam beberapa aktifitasnya. Mawar pun
kadang masih menyukai hal-hal yang belum tentu dibolehkan dalam syara’. Mawar kembali merenung “ sekian lama.. aku
mengkaji namun kedewasaan belum nampak.. “
Label:
#sharekebaikanyuk!,
Tifa'slife,
Wisethink
Kamis, 15 Mei 2014
Membumikan Cinta
Membumikan cinta?
Aku terbahak-terbahak mendengarnya
Apakah cinta ku ini melangit ?
Ah, tidak juga
Namun, apakah mereka merasakannya ?
Rupanya tidak ..
Ya, aku pun mengerti
Aku terbahak-terbahak mendengarnya
Apakah cinta ku ini melangit ?
Ah, tidak juga
Namun, apakah mereka merasakannya ?
Rupanya tidak ..
Ya, aku pun mengerti
Mungkin aku
Detik mungkin telah jenuh membisu
Mendengarkan dalam sunyi
Menyimpan rasa dalam gelap
Kala jiwa ini terasuki bisikan nista
Ya, entah karena rayuan keji
Atau nelangsa yang begitu rupawan
Tapi hati ini tak rela direnggut oleh waktu
Berkutat dalam perasaan yang nista
Yang seharusnya tak boleh kusentuh
Mendengarkan dalam sunyi
Menyimpan rasa dalam gelap
Kala jiwa ini terasuki bisikan nista
Ya, entah karena rayuan keji
Atau nelangsa yang begitu rupawan
Tapi hati ini tak rela direnggut oleh waktu
Berkutat dalam perasaan yang nista
Yang seharusnya tak boleh kusentuh
Dari Sang Jelata
Mimpiku mulai membiru
Melanjutkan kecemburuanya pada singasana kejenuhan
Rupanya gundah ini berpusat dari malam itu
Tepatnya harus kulupakan
Karena rindu itu tak pernah kau gugu
Aah, rasa dingin itu kerap mederaku
Membangunkanku bahwa kau kadang ilusi
Namun apa daya siapa diriku ?
Rakyat jelata yang mengharap mahkota
Melanjutkan kecemburuanya pada singasana kejenuhan
Rupanya gundah ini berpusat dari malam itu
Tepatnya harus kulupakan
Karena rindu itu tak pernah kau gugu
Aah, rasa dingin itu kerap mederaku
Membangunkanku bahwa kau kadang ilusi
Namun apa daya siapa diriku ?
Rakyat jelata yang mengharap mahkota
Jumat, 09 Mei 2014
Koalisi, untuk partai atau negeri ?
Pemilu 9 april telah dilewati namun bukan berarti hawa pesta
demokrasi selesai. Masih ada 3 bulan lagi menuju pemilu presiden. Dengan
memegang hasil pemilu legislatif, partai politik pun kini merancang strategi
untuk memperebutkan Istana. Setiap lembaga survei memang punya angka yang
berbeda. Namun setidaknya semua memiliki nama yang sama tentang siapa pemenang
pemilu kemarin, diantaranya ialah PDIP, partai Golkar dan partai Gerindra.
Hasil pemilu legislatif kemarin bukanlah sekedar angka-angka
belaka. Namun menjadi harga yang sangat mahal dan menjadi modal bagaimana
parpol harus melangkah. Dalam sistem demokrasi seperti ini, khususnya siapa
yang berkuasa dia yang menang. Tentu sangat sulit bagi parpol utnuk
memperebutkan kursi di Istana seorang diri. Maka tak heran jika bulan-bulan
terakhir ini muncul istilah Koalisi.
Dalam sistem demokrasi, koalisi merupakan hal yang biasa.
Mengingat karena koalisi memang diperbolehkan dan suatu keniscayaan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, koalisi adalah kerjasama antara beberapa partai
untuk memperoleh kelebihan suara di parlemen.
Pertanyaannya, lantas koalisi untuk kepentingan siapa ? rakyat kah atau
hanya partai kah ?
Langganan:
Komentar (Atom)
