Tifa at-Taqiya ...

Write your dream on the paper with a pencil hope, and let Allah erases some part to change with great story..

Selasa, 01 Juli 2014

Kisah Pohon Apel

Satu lagi.. saya dapet tulisan bagus. Setelah mengubek ngubek artikel di laptop. Semoga bermanfaat



Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Children



Seseorang pernah bilang , “ bagi anak kecil , bahagia itu sederhana”. Aku tertegun. Hmm.. ternyata bener. Pernah liat anak kecil kan ? Bagi mereka , bahagia itu simple.
Cukup mandi bola , mereka bahagianya luar biasa. Cukup makan permen yang iklannya ada di tv, mereka sudah bahagia. Cukup diajak jalan-jalan naik sepeda ke luar, mereka sudah bahagia. Hanya dengan bermain dengan boneka nya... mereka sudah tersenyum lebar dan tertawa dengan riang. Ya... bahagianya melihat mereka bahagia.

Titik Terlemah

Sperti biasa agenda rutin saya ialah ngecek info di jejaring sosial. Eh ada tulisan salah seorang teman. Sebetulnya udah sering ngeliat tulisan ini. But, entah kenapa jadi jleb.. beda saat baca yang lain.

"ngatlah nak... Allah selalu menguji kita di titik-titik terlemah dalam diri kita..
jika kelemahanmu adalah mudah tersinggung,maka Allah akan mempertemukanmu dengan orang-orang yang mudah membuatmu tersinggung,
jika kelemahanmu adalah kesombongan,maka Allah akan mengujimu dengan perkara-perkara yang semakin menjadikanmu sombong..
begitu seterusnya nak,Allah tidak akan menguji dalam tataran kekuatanmu, Allah akan tetap mengujimu di titik-titik terlemahmu sampai kau mampu melewati ujianNya dan naik kelas ke level selanjutnya..
#halqahkecilsemalam"


Senin, 30 Juni 2014

Perfect dumelan




Haii... how’s your fasting ? Hope always nice. Okeh disini gue cume pengen nuangin sekelumit pemikiran gue yang udah bersemayam syahdu dan gak dikeluarin lewat tulisan. And this is my dumelan.

Kemarin waktu pulang nyari bukaan di sekitar kosan. Gue dinampakan fenomena yang bikin gue kesel, jijik, kasian, sedih .. gak tahu apalah. Waktu itu lihatnya cuma sekilas sii soalnya gue naik motor. Jadi gak bisa merhatiin detail. Di lapangan deket kosan gue, berkumpulah sosok teteh, dengan kerudung gombrang, bajunya muslimaah sekalee meski gak syar’ii. Kalo liat mukanya .. sumfeh adem banget. Gue aja iri. Mereka bawa bawa bendera merah putih ... dan ...gue cengo dulu. Ntar,.. ini ramadhan kan ?  bukan 17 agustusan.  Pas dilihat lagi.. wah  ada lambang garuada merah. Waah rupanya mereka adalah simpatisan salah satu partai. Dan masih banyak waaah yang lainya.
Dan dengan IKHLAS nya mereka .. pake atribut partai.. dan prediksi gue.. mereka mau ngabuburit sambil kampanye.

the answer is ?



Achievement. Terinspirasi dari one of my best friend, akhirnya pengen nulis ini. Kalo kamu ditanya apa prestasi terbesarmu selama 1 tahun terakhir  ? So, the anwer is ?
Biasanya kalo kita mau masuk kerja, tes sesuatu, atau organisasi biasanya kita bakal ditanya sama pertanyaan ini. Persis like me and my friend..

But disini gue bukan bermaksud untuk ngasih bocoran jawaban kalo elo dikasih pertanyaan kayak gini sama calon boss lo atau kakak tingkat lo. Bukan. But gue nulis ini supaya kita sadar dan lebih memaknai apa arti prestasi alias achievement.

Ketika dilontarkan pertanyaan tadi, jawaban yang muncul bermacam macam . For example, “ gue juara 1 lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional” “ gue juara.. bla.. blaa”. But ada juga yang dengan PD nya “ prestasi terbesar saya adalah ketika saya tetap istiqomah dalam keimanan”... ada juga “ Losing fear and dare to dream”..Tapi buat yang pesimis, malah jawab “ saya g punya prestasi apa2”

Sabtu, 28 Juni 2014

Memaknai Kehilangan

Ceritanya ngubek ngubek email yang udah bulukan karena jarang dibuka. Maklum email saya ampe 5 biji. Ehh.. dpet kriman yang bagus nih. Dan pas banget kalo kita emang lagi dpet kejadian yang pas,.. Selamat membaca

Memaknai Kehilangan

Ada seorang perempuan yang merasa sangat kehilangan saat ditinggal mati suami yang  sangat dicintainya.
Demikian besar rasa cintanya, sehingga ia  memutuskan untuk mengawetkan mayat  suaminya dan meletakkannya di dalam kamar.

Hanya pada yang tepat




“Untuk menjadi seseorang yang akan mengurusi hal besar, setidaknya kita harus mampu mengurusi yang kecil terlebih dahulu. “ 

Ya.. kata-kata ini dulu tak pernah kukenal. Aku hanya bermimpi.. terus bermimpi kelak kan menjadi orang besar. Wanita yang kuat super hebat dan bla bla bla.. entah hingga baris keberapa deretan mimpii itu. 

Tapi rupanya Allah masih sayang pada hambaa kecil ini. Ia masih mengingatkanku. Bahwa rupanya untuk mejadi seseorang yang besar, bukanlah layaknya menerbangan debu di persemaian. Ia butuh sebuah jembatan kuat nan kokoh tuk dilewati. Dan kitalah yang membangun jembatan itu.
Butuh sebuah pribadi yang kuat, untuk amanah yang luar biasa. Jujur , aku baru saja menyadari.  Bahwa amanah besar hanya akan singgah pada jiwa yang besar pula.  Amanah tak kan hinggap pada pribadi yang rapuh. Dan Syurga tak kan hadir pada orang yang tak diberi amanah ? Mengapa  ? karena diri ini juga amanah. Maka kesimpulannnya buatlah dirimu menjadi pribadi yang besar, hingga ladang syurga itu akan mendekati dirimu dengan sendirinya.